Bromo – ORSOSBUD Jatim Family Gathering, 29 Agustus 2004

Pagi yang sama lima tahun yang lalu, saya menyusuri jalan ini dari sisi yang lain. Sebuah jalan di tepi tebing, bergelantung erat dengan 20 orang tak dikenal, di dalam sebuah mobil hartop kap terbuka.
Hari itu menuruni Semeru, menyusuri Pegunungan Tengger, tebing hanya berbatas setengah meter membuat jantung berdebar keras dan tangan menggengam begitu erat.
Takut berganti pasrah dan perlahan menyadari bahwa Taman Nasional ini begitu menakjubkan. Di seberang sana, lekukan-lekukan pasir bergelombang berkilau diterangi purnama memisahkan Gunung Bromo dan Batok yang kokoh dari tebing yang curam ini.
Sejenak teringat Puncak Mahameru yang baru saja didaki. Gunung tertinggi di Tanah Jawa, tempat beragam cerita mistis mengambil tempat. Sebuah gunung yang hanya bisa dicapai oleh Yudistira dalam cerita Mahabarata versi Jawa. Sekali lagi melihat ke belakang dan dia masih berdiri disana, begitu indah dan angkuh mengeluarkan abu volkanik setiap seperempat jam.
Damai rasanya, jujur seandainya saja jip saya terperosok atau tangan saya lepas dari genggaman dan saya harus mati, setidaknya saya mati ditempat yang indah :)
Itulah romantisme masa lalu yang membuat saya bangkit mengambil jaket North Face biru saya pagi hari ini. Jaket yang sama seperti lima tahun yang lalu, yang terus menemani saya melewati dinginnya Laut Utara hingga panasnya afrika.
Gran bromo - Pananjakan pagi ini, dingin angin menembus kulit, jip 4 Wheel Drive, tawa canda teman2 baru, inilah yang mebuat saya terus berjalan dan berjalan. Melewati satu perjalanan demi perjalanan, menempa fisik untuk pulang membawa kedamaian dan sedikit kebijaksanaan.
Pagi itu setelah berkali-kali berada di sana masih saja dia begitu menakjubkan. Bromo- Batok dan Puncak Mahameru di kejauhan, sebuah pemandangan klasik yang selalu menghiasi kartu pos standard Indonesia.
Bila kamu berada disana bersama saya menyaksikan Sunrise nan indah. Sebuah waktu dimana langit hitam berubah menjadi jingga dan perlahan-lahan menghapus Venus dan Bulan di ufuk yang lain. Tarik nafas kamu dalam2, rasakan jiwa kamu menjadi satu dengan angin yang terus dan terus berhembus. Sebuah sensasi yang seperti angin, kemanapun kamu pergi, akan membuat kamu selalu ingin kembali, seperti saya pagi hari ini.
posted at 7:05 PM